Minggu, 01 Maret 2015

SEPULUH TAHUN LALU .......Beta Masih Ingat e.....



Hari ini....
Tak  terasa sepuluh  tahun telah berlalu
Dikala tengah hari
Dalam kelelapan terlena
Pada sepenggal pesan terpatri
Kau pergi untuk selamanya

 
Ayah………..
Aku masih di sini di lereng bukit ini
Megah dalam dandanan Sepasang Gaun kenangan
Hadiah termanismu  takala aku kugapai
Puncak Bukit Mmentari

Ayah.....
Air mataku sudah habis dan tak menangis lagi
Seperti kala itu.
Dalam kenangan kepergianmu hari ini
Kurajut hening tanpa kesepian
Hatiku tertawa kecil  mengenang senyummu yang tulus
Semangatku mengangguk
Memahat hati menancap Petuah terucap

Ayah....
Kau sudah lama pergi dari mata dan keseharianku
Dan
Kau hadir dan selalu bersama dalam semangatku
Yang terus bergelora
Menulis tentang Hati Yang Hilang.

Selamat Malam Papa
Selamat bersamaku dalam semangat

(Ruteng 1 Maret 2015. Untuk Bapa Anton Puang di Surga)

Rabu, 13 Agustus 2014

KUTULIS RINDU YANG ABADI



Dalam keheningan  malam yang memeluk
Kutermenung dalam kesendirian
Memintal  memori terpahat
Menoreh butiran bening hati
Membasuh segumpal  harap
Yang terus menggapai tak henti

Di atas pucuk-pucuk rindu
Bergelora  hasrat terpasung
Memantul dinding naluri jiwa  menggelisah
Menelan waktu yang datang dan pergi
Melintas jarak hatiku hatimu

Dalam derap ziarah hati berlalu
Kuhadirkan dirimu dalam asa yang terus berlagu
Sepanjang kelana kesendirianku yang memagut
Kubisikan cinta tak tergadai
Kuabadikan dalam bait  puisi
Kutulis rindu yang abadi.

Jumat, 13 Juni 2014

RINDU TAK BERTEPI


Kutahu tak pernah ada janji
Kau hadir dalam kesendirin ini
Tapi ……
Tak kuasa hatiku menolak
Harapan yang terus menggetar
Rindu yang terus memagut
Gelisah yang terus mendesah

Kutahu tak pernah ada rasa di hatimu
Tentang malam sesepi ini
Tapi….
Tak lelah hatiku menunggu
Di ujung malam
Dalam remang rembulan
Di balik tembok keramaian akhir minggu
Kutahu tak pernah ada saling memandang
Tapi……
Tak henti kerlinganku terus merayu
Bersanding pada kedipan bintang di langit biru
Sebiru kesendrianku yang terus mengharu
Biru dalam harapan tak bertepi
( Ruteng, 08 Juni 2014)

Minggu, 01 Juni 2014

PADA BOLA MATAMU



Pada bola matamu
Kudapati  beningnya telaga
Tempatku menghempaskan jiwa
Dalam kelelahan
Mencari hati yang hilang

Pada bola matamu
Kudapati Birunya lautan
Pinggirnya berhamparan pasir putih
Tempat tanganku menulis
Guratan juang  menapak
Yang sebentar lagi terhapus
Dalam piasan gelombang
Waktu yang datang dan pergi

Pada bola matamu
Kutatap cerahnya sinar memantul
Menuntun arah langkahku menuju
Tegap menantang terpaan siul yang sumbang

Kamis, 15 Mei 2014

DEBAR HATIKU MENANTI



Kekasih,
Kukirimkan bingkisan rinduku
Pada sinar rembulan malam ini
Dari lereng bukit hatiku yang terpasung
Dalam gundah medamba
Memori terulang

Kasih,
Kupandang bulan setengah purnama
Dibalik jiwaku mengembara
Menerbang dengan sebelah sayap
Menggapai hatimu seberang pulau

Kasih,
Aku masih di sini di bangku ini
Debar hatiku menanti
Sayu mataku menerayang
Sumbang siulku menghibur
Gontai langkahku berderap
Menopang ragaku yang kosong

Kasih,
Aku masih di sini
Duduk di bangku ini
Mungkinkah kau tahu
Hati dan jiwaku terpenjara
Dalam cinta dan kerinduan
Di sisimu

Jumat, 11 April 2014

LELAH MEREDAM



Lelah jiwaku memendam
Untaian kata  menikam
Menoreh sesayat luka
Terpatri sepanjang tapak melangkah

Kejam alamu membasuh telapak
Meraup seonggokan debu berlumur
Melempar
Bopengnya wajahku mengumandang
Meriuh kerumunan mengeroyok
Memasung keleluasaan menguak

Lelah jiwaku memendam
Memantul
Kemegahan yang kosong
Desau pada dedaunan keluhan
Tanpa henti.